Bogor,Kabarpakuan.id – Wakil Walikota Bogor, Jenal Mutaqin, memanfaatkan momentum kunjungan kerja seraya meluangkan waktu bersama keluarga dengan memboyong istri dan anaknya untuk berbelanja sekaligus menikmati wisata kuliner di Pasar Jambu Dua, Kota Bogor, pada Kamis (2/7/2026).
Selain berburu kuliner khas di lantai dua, orang nomor dua di Kota Bogor ini juga menyempatkan diri melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna mengecek stabilitas harga dan ketersediaan bahan-bahan pokok di pasar tradisional yang baru saja mengalami revitalisasi total tersebut.
Berdasarkan hasil pantauannya di lapangan, Jenal Mutaqin menyampaikan bahwa komoditas sembako dan bahan pangan di Pasar Jambu Dua secara umum relatif lengkap dan harganya masih berada dalam batas stabil. Kehadiran pasar ini dinilai menjadi salah satu alternatif utama penggerak roda perekonomian sekaligus tempat belanja yang representatif bagi masyarakat Bogor.
”Relatif seperti cabai, ya, justru harganya masih stabil. Yang sempat diangkat Rp70.000 mungkin pada saat Lebaran tadi, sekarang di Rp30.000. Daging ayam semua juga masih dalam tahap stabil untuk harga bahan pokok,” ujar Jenal Mutaqin saat memberikan keterangan kepada awak media di lokasi, Kamis (2/7).
Meski demikian, ia mencatat adanya sedikit kenaikan pada komoditas cabai keriting dan cabai merah besar sekitar Rp5.000 dari harga normal.
Berdasarkan dialog langsung dengan para pedagang, kenaikan tipis ini dipicu oleh kendala pada jalur distribusi penyuplai yang mayoritas berasal dari luar daerah Kota Bogor. Sementara untuk jenis cabai rawit setan atau cabai jablai, terpantau masih dalam kondisi normal.
Di sela-sela kunjungannya, pria yang akrab disapa Kang JM ini membeberkan bahwa pemerintah bersama Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) dan pihak ketiga tengah berupaya keras mengoptimalkan okupansi kios di lantai satu. Pasalnya, saat ini masih terdapat sekitar 300 lebih los atau kios komoditas pasar basah yang belum terisi oleh pedagang.
Padahal, pemerintah telah memberikan stimulus luar biasa berupa pembebasan biaya sewa alias gratis pada tiga bulan pertama bagi para pedagang yang ingin mengisi fasilitas tersebut.
”Pemerintah melalui PD Pasar dan pihak ketiga sudah memberikan ruang yang harganya sangat murah, bahkan ada sesi gratis di tiga bulan pertama. Jadi bagi para PKL (Pedagang Kaki Lima), terutama yang ingin mencari nafkah secara resmi dan tidak mengganggu ketertiban umum lainnya, saya rasa di Pasar Jambu Dua sudah cukup representatif, apalagi dengan harga terjangkau,” tegasnya.
Terkait area kuliner di lantai dua, Jenal mengungkapkan apresiasinya atas transformasi konsep Pasar Jambu Dua yang berubah hingga 360 derajat. Konsep baru ini berhasil menarik minat pasar secara masif, terbukti dengan status full booking 100 persen untuk lapak kuliner, baik oleh pelaku usaha lokal maupun dari luar Kota Bogor.
Pihak ketiga mengarahkan pasar ini menjadi pusat kuliner baru yang ramah terhadap semua kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.
Namun, tingginya animo masyarakat memicu konsekuensi logis terhadap aspek kenyamanan yang harus segera dibenahi. Jenal menyoroti beberapa fasilitas penunjang yang dinilainya masih kurang maksimal dan perlu perhatian cepat dari pihak pengelola.
”Memang terasa sedikit panas atau gerah ketika para pengunjung ingin bersantai menikmati kuliner. Seharusnya memang ditambah beberapa unit blower (kipas angin besar), termasuk pemenuhan meja dan kursi penunjang. Tadi saya konfirmasi, sarana tersebut sedang dalam proses pemesanan oleh pihak ketiga,” ungkapnya.
Selain masalah sirkulasi udara dan minimnya tempat sampah, Wakil Wali Kota Bogor ini juga memberikan instruksi tegas agar pengelola segera menyediakan smoking area atau ruang khusus merokok yang terpisah secara fisik dari area utama kuliner. Langkah ini dinilai krusial demi melindungi kenyamanan anak-anak dan keluarga yang sedang berkunjung dari paparan asap rokok.
Terkait banyaknya tenan kuliner yang sudah dipesan (booking) dan dibayar namun belum kunjung beroperasi, Jenal meminta pihak ketiga untuk segera memberikan tenggat waktu (due date) dan melakukan evaluasi berkala agar tidak membiarkan area tersebut kosong terlalu lama di tengah tingginya minat pedagang lain yang siap berjualan.
Ke depan, Pemerintah Kota Bogor berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai lembaga strategis, seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), hingga komunitas Gastronomi Bogor. Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat posisi Kota Hujan sebagai Kota Gastronomi yang konsisten menyajikan ruang kuliner yang nyaman, bersih, dan ramah terhadap seluruh wisatawan.(Heri)








